Breaking News
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TOKOH. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2015

Ketum LMND: Kita Kritik Keras Pemerintah, Tapi Bukan Menggulingkan!

LMND.blogsprot.com dikutip dari berita empat.com Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Vivin Sri Wahyuni" mengatakan, pemerintah seharusnya memikirkan bagaimana nasib rakyat Indonesia saat Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) digulirkan nanti. Menurut Vivin, bangsa Indonesia tidak harus mengikuti alur yang dibuat oleh asing. “Kita punya Pancasila dan Trisakti yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya,” kata Vivin di Jakarta, Rabu (13/5). Selain itu, lanjut Vivin, pemerintah juga punya nawacita yang apabila dijalankan, akan berdampak positif bagi rakyat. Tetapi sayangnya, kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah Jokowi tidak pro rakyat, dan itu harus dikritik dengan keras oleh mahasiswa. Namun demikian, Vivin mengaku menolak wacana penggulingan pemerintahan. Menurutnya, isu tersebut hanya dibuat oleh sekelompok orang yang punya kepentingan tertentu. “Kita harus lebih bijak. Kita kritik keras pemerintah, tapi bukan menggulingkan. Mari kita belajar dari pengalaman gerakan 98,” ujarnya. Didik arianto.
Read more ...

Rabu, 20 Mei 2015

KULIAH GRATIS UNTUK PUTRA PUTRI BENGKALIS

LMND.Blogsprot.com Mengapa Harus Gratis ? Dalam era globalisasi ilmu ialah sebuah syarat mutlak untuk bersaing mengarungi kehidupan yang bersifat Neolibralisme hinga bisa mampu menjadi tuan rumah dinegeri sendiri ! Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu penyebab terjadi penjajahan gaya baru dalam bentuk penjajahan Ekonomi ialah terletak pada Ilmu dan mental putra –putri Bangsa, menyikapi hal tersebut malah orang-orang yang berada di kekuasan lebih senang menjadi hamba para imprialisme dari pada harus berjuang melaksanakan TRISAKTI yang jalanya telah dipaparkan dalam UUD 1945. Bengkalis sebuah Kabupaten yang berada di pulau sumatra terletak diprovinsi Riau merupakan Kabupaten APBD terbesar di Indonesia mencapai Rp.5 Terliun menjadi ironis ketika Mahasiswa harus mengeluarkan biaya cukup Tinggi agar mampu melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi, Menjamurnya pembagunan perguruan tinggi ternyata tidak dibarengi dengan cost murah pada hal kalau menilik dari penghasilan APBD Bengkalis yang besar seharusnya putra-putri Bengkalis sudah sewajarnya mendapatkan Kuliah Gratis tetapi sangat tragis pemerintah Daerah lebih memilih mengembalikan anggaran kepemerintah pusat hampir setiap Tahunnya (Dana Silva ) untuk tahun 2014 saja Pemkab mengembalikan Dana silva(sisa ) mencapai Rp.600 Milyar sebuah hal sangat disayangkan, coba Dana besar tersebut dialihkan untuk pendidikan tentu saja tidak menutup kemungkinan 70%-100% Mahasiswa Bengkalis akan mendapatkan kuliah Gratis, Pada Tahun 2015 Pemkab Bengkalis menganggarkan dana pendidikan Rp.998 Milyar yang diperuntukan untuk tiga pos , belanja Langsung ,Belanja Tidak Langsung , serta Hibah . berkaca dari peruntukan tersebut memang terbilang cukup besar tetapi bukan hal yang membanggakan ketika cost/biaya pendidikan terbilang Tinggi, Seharusnya pemkab lebih progres melahirkan trobosan yang menyentuh hal pokok Rakyat khususnya dibidang pendidikan Ke Mahasiswaan kerna tidak bisa dibantah Beasiswa yang ada sebagian besar berasal dari Nasional (Bidikmisi,supersemar,BBM Dll) dan 5% berasal dari perusahaan sisanyalah baru diisi Pemkab. ketika pemkab berpikir bijaksana tentu saja bantuan dari Nasional dan perusahaan begitu besar secara logika awam Pemkab pasti mampu memformulasi untuk menyelenggarankan pendidikan Gratis bukan saja hanya sampai ditingkat SMA tentu saja mampu hinga kepegguruan tinggi minimal Diploma Tiga (D3). Landasan Pokok ialah berpijak dari pasal 31 UUD 1945 bahwa setiap warga negara Indonesia Berhak memperoleh pengajaran/pendidikan tanpa pengecualian serta di dukung dengan kemampuan dari Kabupaten Bengkalis sangat besar dan bahkan dalam 5 Tahun belakangan ini terus mengalami Silva bertolak dari hal tersebut sangat mustahil untuk dibantah Bengkalis belum mampu mewujudkan Kuliah Gratis, ketika hal tersebut sampai saat ini belum terwujud tidak ada alasan kita berdiam diri mari kita bersama menjemputnya dengan berjuang agar hal seharusnya telah menjadi Haknya Mahasiswa kembali pada Mahasiswa. KALKULASI COST BIAYA KULIAH DAN PENYERAPAN AGGARAN APBD BENGKALIS 2015 Kalkulasi cost Kuliah ialah dengan asumsi jumlah keseluruhan Mahasiswa di perguruan tingi di Kabupaten Bengkalis yang terdiri dari Politeknik Negeri Bengkalis,STAIN,STIE Syariah,AKN Bengkalis,Politikes Bengkalis,Politeknik Kemaritiman. 10.000 Ribu Mahasiswa dengan asumsi cost Kuliah sebesar Rp.4 Juta/semester 2.000 Mahasiswa asal Bengkalis yang melanjutkan perguruan Tinggi ke luar Daerah 10.000 X 4.000.000 X 2 = Rp. 80 Milyar 2.000 X 4.000.000 X 2 = Rp. 16 Milyar Jumlah keseluruhanya cost di peruntukan untuk program Gratis Kuliah sebesar Rp.96 Milyar Pendapatan APBD Bengkalis Rp.5 Terliun ( Lima Terliun Rupiah ) artinya untuk program hanya menyerap anggaran dari APBD tidak lebih sebesar 0.2 % Hitungan diatas belum termasuk Bantuan program Beasiswa dari Nasional dan dari perusahaan. Kongclusinya tidak ada alasan apapun yang bisa membantah bahwa Bengkalis belum memiliki Kemampuan untuk menyelengarankan pendidikan kuliah GratiS. Penulis : Didik Arianto Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi ( LMND ) MAHASISWA BERSATU TAK BISA DIKALAHKAN
Read more ...

Selasa, 04 November 2014

TAN MALAKA, BAPAK REPUBLIK YANG TERLUPAKAN




Tan Malaka; sosok yang terlupakan. Di tengah gemuruh arus kemerdekaan yang hebat, ia hanya bisa menikmatinya dari alam kubur. Mungkin benar seperti yang dikatakan oleh Tan; “Ingatlah, bahwa dari dalam kubur, suara saya akan lebih keras dari pada di atas bumi”. Memang, akhirnya ia tewas, namun agaknya suaranya tak terdengar lantang di bumi bangsanya.

Ia pahlawan nasional. Presiden Sukarno mengesahkannya pada 1963. Tapi itu hanya sebuah peristiwa semu saja, yang beralibi untuk mengenang Tan. Pada masa Orba, namanya tenggelam begitu saja tanpa ada yang menyanggah. Ia dihapus dari buku pelajaran sejarah di sekolah-sekolah. Mungkin, perlakuan naif itu dilakukan, karena Orba merasa diri anti-komunisme.

Tan nyaris tak disebut dalam kisah-kisah heroik para pejuang. Pramoedya Ananta Toer, mengatakan bahwa Orba telah melakukan “pembodohan sejarah”, rakyat Indonesia dijejali dengan kebohongan lewat sekolah-sekolah. Boleh jadi, apa yang dikatakan Pram, mengarah pada Tan yang terlupakan. Sehingga, sejarah Indonesia akan mengalami ketimpangan; seolah ada tokoh-tokoh super yang ditampilkan berlebihan, ada juga yang tak dikenal sama sekali.

Tapi pahlawan bukan tokoh misterius. Ia ada untuk ditelaah perjuangannya, atau sekadar menilik kembali kejadian suram masa silam. Bukan untuk dielu-elukan, apalagi sampai didewakan. Seolah-olah, pahlawan telah menjadi mitos. Anggapan inilah yang kemudian menjadi sebuah jarak, antara masa silam dan masa sekarang. Padahal, apa yang terjadi sekarang, sebenarnya pun mirip dengan kejadian masa lampau. Sebenarnya, antara masa silam dan sekarang itu ada sebuah jembatan, ia adalah sejarah.

Siapa pula yang kenal dengan Tan Malaka? Sedikit sekali orang yang mengenalnya. Ia adalah tokoh yang berperan penting dalam kemerdekaan pascaproklamasi. Pada 1922, ia dibuang oleh pemerintah kolonilal ke Belanda karena dianggap “mengusik”. Dari sana ia berkelana ke banyak negara dengan berbagai nama samaran dan membawa ideologi; Marxisme. Bukan semata ia mempertahankan ideologinya, namun yang terpenting baginya adalah kemerdekaan Indonesia.

Pada 1942, ia kembali ke Indonesia diam-diam, setelah malang melintang di berbagai negara dengan keterasingannya. Ilyas Hussein nama samarannya, ia pergi ke Jakarta menemui tokoh pemuda, melakukan propaganda. Tentu mereka heran, ia yang mengaku bekerja di pertambangan batu bara di Banten, bisa mengutarakan gagasannya sehebat itu. Ternyata, nama Tan terkenal, karyanya; “Masa Aksi”, banyak dipelajari oleh kaum pergerakan, termasuk Sukarno.

Pascaproklamasi, Tan-lah yang mendesak pemuda agar segera melakukan proklamasi. Dengan pengaruhnya, Soekarno dan Hatta diculik golongan pemuda ke Rengasdengklok. Alhasil, proklamasi terlaksana. Tan tak hadir dalam kejadian penting itu, ia yang waktu itu menginap di rumah Sukarni(golongan muda) ditinggal oleh tuan rumahnya itu; ternyata Sukarnilah yang menculik Sukarno, sehingga Tan ditinggal, pada saat itu pun Sukarni tak tahu bahwa Hussein itu Tan. Ia jugalah yang menggerakan masa pada rapat akbar di lapangan Ikada.

Di tanah airnya sendiri, ia pernah dipenjara—lebih lama dari di luar negeri; dua setengah tahun. Pada 1946, ia ditangkap di Madiun, dengan tuduhan hendak melakukan kudeta terhadap Soekarno-Hatta. Sebelumnya, ia membentuk “Persatuan Perjuangan” yang intinya, menolak jalur diplomasi—ia menginginkan Indonesia merdeka seratus persen. Di tempat inilah ia bertemu dengan Jendral Soedirman. Akhirnya, dua sekawan ini bergerilya bersama kembali menghalau Agresi Belanda, setelah Tan bebas pada 1948. Saat itu, kemerdekaan Indonesia dalam keadaan genting; Soekarno, Hatta, Syahrir ditangkap oleh Belanda. Tan dan Soedirman pun berpisah, ia bergerilya ke Jawa Timur, sedang Soedirman ke Jawa Tengah.

Pemerintahan darurat dibentuk, Syafrudin Prawiranegara di Sumatra yang memimpinnya. Tan menolak, ia mendirikan Rakyat Murba Terpendam sebagai markas untuk menyebarkan pamplet dan berpidato memproklamasikan dirinya sebagai pemimpin besar revolusi, menggantikan Soekarno-Hatta yang tak lagi memegang kekuasaan; ia melakukan itu, karena Soekarno pernah memberikan testamen pada 1945 yang isinya, menyerahkan kekuasaanya apabila Soekarno ditangkap.
Dalam persembunyian itu, Tan melakukan propaganda agar rakyat berani melakukan gerilya terhadap Belanda. Di tempat itu juga, Tan mengkritik tentara devisi Jawa Timur pimpinan Kolonel Soengkono yang dinilai pengecut dan tak peduli terhadap rakyat. Soengkono mendengar kabar itu, akhirnya ia menugasi anak buahnya untuk mengintai Tan karena dianggap berbahaya untuk Republik Indonesia. Tan dinilai melakukan agitasi politik terhadap rakyat, guna merebut kekuasaan Soekarno.

Tan tewas oleh Tentara Republik Indonesia, di Selopanggung, pada 23 Februari 1949. Masih menjadi kontroversi siapa yang membunuh Tan. Harry Poeze, Sejarawan Belanda yang meneliti Tan, mengatakan jika yang mengeksekusi Tan adalah Tentara itu, atas perintah Soengkono. Tan tewas tanpa jejak, pemakamannya pun tak jelas. Ia dihujat dan dilupakan oleh negaranya sendiri. Ia kesepian, api semangatnya yang membara ternyata tak berarti apa-apa oleh ganasnya senapan.

Sejarah memang milik penguasa, kata seseorang. Demi kepentingan politik, sang pahlawan dibentuk atau ditiadakan. Yang hebat tambah menjadi hebat, hingga ditempatkan pada yang bukan tempatnya. Akhirnya, sang pahlawan hilang kehebatan, ketika ia ditempatkan pada dunia yang bukan kuasanya; dunia para dewa.

Tan tetap hebat, di tengah mahkluk sesamanya yang mendewakan manusia. Sebab, ia tak ditempatkan di dunia dewa-dewa seperti “Sang Pahlawan” lainnya.

*) Mahasiswa Institut Ilmu Sosial Ilmu Politik (IISIP) Jakarta



Read more ...

WR SOEPRATMAN DAN LAGU "INDONESIA RAYA"


Wage Rudolf Soepratman

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah menetapkan tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. Kenapa tanggal 9 Maret? Karena tanggal 9 Maret itu—tepatnya 9 Maret 1903—adalah hari kelahiran komponis besar Indonesia, Wage Rudolf Soepratman.

Memang, penetapan Hari Musik Nasional itu masih menuai kontroversi. Ada beberapa pihak yang kurang setuju. Bagi mereka, WR Soepratman bukan satu-satunya komponis Indonesia.

Kontroversi lainnya: tanggal dan tempat kelahiran WR Soepratman masih perdebatan. Ada yang bilang, WR Soepratman dilahirkan tanggal 9 Maret 1903 di Purworejo, Jawa Tengah. Yang lain berpendapat, WR Soepratman lahir di Jatinegara, Jakarta.

Tak banyak catatan tentang sosok WR Soepratman. Pada usia kecil, ia sudah ditinggal mati oleh ibunya. Sejak itu ia diasuh oleh kakak sulungnya, Roekijem Soepratijah, yang menikah dengan seorang Belanda bernama Van Eldik.

Sejak kecil, bakat musik WR Soepratman sudah nampak. Kebetulan, kakak sulungnya dan kakak iparnya juga pemain biola. Merekalah yang memberi dan mengajar WR Soepratman bermain biola. Hebatnya, Soepratman cepat menguasai alat musik itu.

Lantaran itu, Van Eldik memboyong Soepratman ke kelompok musiknya, Black and White Jazz Band. Saat itu usia Soepratman masih belasan tahun.

Pada tahun 1914, Van Eldik dan istrinya pindah tugas ke Makassar. Soepratman juga ikut diboyongnya. Di sanalah Soepratman bisa mengenyam pendidikan, yakni Europeesche Lagere School (ELS). Supaya bisa diterima di sekolah khusus orang Belanda dan Eropa itu, nama Soepratman ditambahi “Rudolf”. Tetapi itu hanya berlangsung sebentar. Belakangan, pihak sekolah mengetahui hal itu dan langsung mengeluarkan Soepratman dari sekolah itu.

Ia pindah ke Sekolah Dasar Angka Dua (2 Inlandsche School). Lalu, ia melanjutkan lagi ke Sekolah Guru. Setelah tamat, Soepratman sempat menjadi guru selama 3 tahun. Tetapi, rupanya, kakaknya keberatan dengan pekerjaan itu.

Setelah itu, Ia bekerja di kantor seorang pengacara keturunan Indo di Makassar. Dan, seperti kebanyakan keturunan Indo, pengacara itu bersimpati dengan gerakan Indische Partij, yang digagas oleh tiga serangkai: Douwes Dekker, Tjipto Mangungkusumo, dan Ki Hajar Dewantara.

Kantor pengacara itu berlanganan koran-koran IP. Dan disitulah WR Soepratman mengenal ide-ide pergerakan. Itu pula yang mendorong ia pindah ke kota Bandung, Jawa Barat, yang saat itu menjadi pusat pergerakan IP. Di sana ia bekerja sebagai jurnalis di Kaoem Moeda dan Kaoem Kita.

Di kota Bandung, ia beberapa kali pindah tempat bekerja. Ia sempat bekerja di Kantor Berita Alpena, lalu pindah lagi ke Kantor Berita Tionghoa-Melayu Sin Po. Di situ ia sering menulis berita tentang kaum pergerakan.

Dari pekerjaan sebagai penulis berita pergerakan, WR Soepratman mulai mengenal tokoh-tokoh pergerakan pemuda jaman itu, seperti Mohamad Yamin, Soegondo Djojopoespito, dan Mohammad Tabrani.

Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”

Tak jelas kapan lagu “Indonesia Raya” diciptakan WR Soepratman. Wartawan senior Alwi Shahab menuliskan, “Suatu hari, secara kebetulan WR Soepratman membaca artikel berjudul ‘Manakah Komponis Indonesia yang Bisa Menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia yang Dapat Membangkitkan Semangat Rakyat’ dalam majalah Timboel terbitan Solo.”

Soepratman merasa terpanggil oleh artikel itu. Ia merasa, seruan itu sengaja ditujukan padanya. Ada yang mengatakan, lagu “Indonesia Raya” diciptakan WR Soepratman tahun 1926. Itu bertepatan dengan Kongres Pemuda Indonesia I. WR Soepratman mendengar kabar pelaksanaan kongres itu dari Mohammad Tabrani.

Menurut Alwi Shahab, WR Soepratman berniat memperdengarkan lagu ciptaannya itu kepada peserta Kongres Pemuda Indonesia I. Namun, entah kenapa, Ia mengurungkan niat itu.

Versi lain mengatakan, WR Soepratman membuat lagu itu pasca Kongres Pemuda Indonesia I. Jadi, pada saat kongres pemuda I itu, Ia mendengar pidato berkobar-kobar dari Tabrani. Tabrani antara lain berseru, “Rakyat Indonesia, bersatulah.”

Kata-kata itu sangat menyentuh WR Soepratman. Ia kemudian menerjemahkan kata-kata itu melalui sebuah lagu berjudul “Indonees, Indonees”—nanti berubah judul menjadi “Indonesia Raya”.

Lagu itu diperdengarkan pertamakali pada Kongres Pemuda Indonesia II di gedung Indonesische Clubgebouw, Jalan Kramat Raya 106, Jakarta. Saat itu, WR Soepratman mendatangi Ketua Sidang, Soegondo Djojopoespito, untuk meminta diberi kesempatan membawakan lagu ciptaannya.

Soegondo setuju, tapi ia meminta agar WR Soepratman tidak menyanyikan liriknya. Maklum, liriknya ada banyak kata “Indonees, Merdeka”. Soegondo khawatir, lirik lagu itu akan memancing dinas intelijen kolonial untuk membubarkan acara kongres. WR Soepratman setuju. Ia pun memainkan lagu ciptaannya itu menggunakan instrumen biola.

Usai kongres itu, lagu ciptaan WR Soepratman terkenal. Organisasi kepanduan turut mempopulerkan lagu itu ke tengah rakyat. Lalu, WR Soepratman berusaha merekam lagu itu. Ia kemudian menghubungi orang yang bernama Yo Kim Tjan.

Yo Kim Tjan merekam lagu itu. Dalam piringan hitam itu, lagu tak beralun dengan alat musik saja, melainkan ada suara Soepratman di sana. Pada tahun 1957, Yo Kim Tjan menyerahkan rekaman asli itu ke Djawatan Kebudayaan.

Gara-gara lagu itu, WR Soepratman beberapa kali berurusan dengan dinas intelijen Belanda (PID). Ia ditanya, mengapa dalam lagu itu banyak sekali kata “Indonees, Merdeka”. Maklum, penguasa kolonial sangat alergi dengan ide Indonesia merdeka. Lagu itu pun sempat dilarang.

Kapan lagu itu berubah nama menjadi Indonesia Raya? Pada tahun 1944, sebuah panitia yang ditugaskan mempersiapkan kemerdekaan ditugaskan mencari lagu Kebangsaan. Panitia itu dipimpin oleh Bung Karno. Panitia inilah yang beberapa kali mengubah lirik dan judul lagu itu. Pada tanggal 8 September 1944, sebuah keputusan rapat memutuskan mengubah judul lagu itu dari “Indonees, Indonees” menjadi “Indonesia Raya”.

Beberapa liriknya pun berubah. Diantaranya: “Indones, Indones, moelia, moelia, tanahkoe, neg’riku yang koecinta” menjadi “Indonesia Raja, Merdeka, merdeka, Tanahku, neg’riku jang kutjinta!.” Sedangkan “Indones, Indones, Moelia, Moelia, Hidoeplah Indonesia Raja” diubah menjadi “Indonesia Raja, Merdeka, merdeka, Hiduplah Indonesia Raja.”

Lagu “Indonesia Raya” pun diputuskan sebagai lagu Kebangsaan. Sayang, WR Soepratman tak sempat melihat lagu ciptaannya itu menjadi lagu kebangsaan Indonesia Merdeka. Ia lebih dulu di panggil Tuhan Yang Maha Kuasa pada tanggal 17 Agustus 1939.

Selain lagu Indonesia Raya, Ia juga menggubah lagu-lagu nasional seperti Bendera Kita, Pandu Indonesia, Ibu Kita Kartini dan Di Timur Matahari. Khusus lagu “Di Timur Matahari”, separuh liriknya, yakni “Di timur matahari mulai bercahaya, Bangun dan berdiri kawan semua ” itu merupakan sub judul dalam risalah terkenal Bung Karno, Mencapai Indonesia Merdeka, yang ditulis tahun 1933.

Dalam Kamus Musik Indonesia disebutkan, lagu mars “Di Timur Matahari” diciptakan WR Soepratman tahun 1931. Artinya, sangat besar kemungkinan Bung Karno tertarik dengan lirik lagu WR Soepratman itu dan menjadikannya sub judul dalam karyanya.



Read more ...

AMILCAR CABRAL DAN PERJUANGAN PEMBEBASAN NASIONAL




Tanggal 20 Januari lalu, rakyat Afrika mengenang 41 tahun kepergian seorang pejuang terkemuka: Amilcar Cabral. Dia dikenal sebagai pejuang kemerdekaan Guinea-Bissau dan Cape Verde.

Namun, bagi rakyat Afrika, kontribusi perjuangan Amilcar Cabral bukan hanya di negerinya, Guinea-Bissau, tetapi menjalar hingga seantero Afrika. Bahkan menginspirasi bangsa-bangsa dan rakyat tertindas di berbagai belahan dunia.

Cabral dibunuh oleh agen Portugis pada tanggal 20 Januari 1973. Saat itu, di tengah malam yang sunyi, seorang agen Portugis bernama Innocenta Canida, yang telah disusupkan dalam gerakan rakyat Guinea-Bissau selama bertahun-tahun, memberondongnya dengan senjata mesin.

Sekilas Perjuangannya

Kolonialis Portugis menjajah lusinan negara di Afrika, termasuk Guinea-Bissau dan Kepulaun Verde, selama 500-an tahun. Selama itu pula Portugis menjalankan perbudakan dan penjarahan secara sistematis terhadap negeri kecil itu.

Cabral lahir di tengah keganasan kolonialisme itu di Bafata, Guinea-Bissau, pada tanggal 12 September 1924. Ayahnya, Juvenal Lopez Cabral, adalah seorang guru dan pejuang anti-kolonial. Sementara ibunya, Iva Pinhel Evora, adalah seorang buruh di sebuah pabrik pemasok ikan.

Usia 8 tahun, Cabral ikut kedua orang tuanya ke Cape-Verde. Di sanalah ia bersekolah hingga sekolah menengah atas. Tahun 1940, Cape-Verde dilanda kekeringan dashyat. Sebanyak 50.000 tewas. Namun demikian, kolonialis Portugis tidak berbuat apapun. Kejadian itu benar-benar membuka mata Cabral untuk melihat kejahatan kolonialisme.

Pada tahun 1945, Cabral mendapat bea-siswa dari penguasa Portugis untuk belajar di Lisbon. Bea-siswa ini sebetulnya tidak cuma-cuma: penjajah Portugis berharap mahasiswa-mahasiswa cerdas ini bisa dikooptasi dan dijadikan administratur kolonial. Di sana Cabral mengambil studi ilmu pertanian.

Tetapi harapan kolonialis Portugis itu kandas. Di Lisbon, Cabral bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa Afrika dari berbagai negara, seperti Augustinho Neto (pejuang kemerdekaan Angola) dan Eduardo Mondlane (tokoh utama Front Pembebasan Mozambik/FRELIMO). Mereka membentuk kelompok studi bawah tanah, yang mempelajari teori-teori politik–termasuk marxisme–dalam rangka menemukan jalan keluar pembebasan negerinya.

Tahun 1950-an, Cabral kembali ke negerinya sebagai sarjana pertanian. Ia melakukan perjalanan ke desa-desa. Yang menarik, proses turun ke bawah (Turba) itu membawa Cabral pada sebuah kesimpulan: strategi land-reform–sebagaimana ditempuh banyak gerakan kiri di berbagai belahan dunia–tidak cocok untuk Guinea-Bissau. Pasalnya, corak utama kepemilikan tanah di Guinea-Bissau adalah kepemilikan tanah kecil.

Sebaliknya, bagi Cabral, penindasan kolonial justru berkontribusi besar dalam menindas kehidupan petani negerinya. Misalnya, penguasa kolonial membuat aturan yang mencekik leher petani, seperti harga jual yang ditentukan penjajah, pajak yang selangit, petani dipaksa menanam tanaman tertentu, dan lain-lain.

Pada tahun 1956, bersama lima kawannya dari Guinea-Bissau dan Cape Verde, Cabral mendirikan partai bernama Partido Africano da Independecia da Guinea e Cabo Verde (PAIGC/Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea dan Cape Verde). Partai inilah yang memimpin perjuangan pembebasan nasional Guinea-Bissau dan Cape Verde.

Awalnya, partai ini bergerak di perkotaan, dengan mengorganisir kaum buruh dan kaum miskin, kemudian merambat ke desa-desa untuk menyeret kaum tani dalam perjuangan. Sebulan setelah pembentukannya, PAIGC mengorganisir buruh di pelabuhan Bissau untuk melancarkan pemogokan. Namun, kolonialis merespon pemogokan itu dengan kejam. Polisi dan tentara dikerahkan untuk menumpas pemogokan itu: 50 buruh tewas dan ratusan lainnya terluka.

Peristiwa itu menjadi pelajaran berharga bagi Cabral dan PAIGC. Pada sebuah konferensi partai di tahun 1959, PAIGC memutuskan untuk mengambil metode perjuangan bersenjata. Sebagai tahap awal, mereka mengambil taktik gerilya, yang dimaksudkan untuk menstimulasi keadaan agar rakyat memberontak. Taktik gerilya ini efektif untuk menciptakan teritori-teritori yang terbebaskan.

Pada tahun 1964, PAIGC memasuki tahap perjuangan baru, yakni membentuk sayap bersenjata bernama Angkatan Bersenjata Revolusioner Rakyat (FARP). Tak hanya itu, PAIGC mulai merekrut kaum buruh, petani, kaum miskin, dan anak-muda untuk terlibat dalam perjuangan bersenjata melawan Portugis.

Perjuangan bersenjata itu efektif. Tahun 1966, PAIGC mengklaim berhasil membebaskan 50% teritori negerinya. Keadaan itu membuat kolonialis Portugis naik pitam. Akhirnya, tahun itu juga, Portugis melipat-gandakan tentaranya di Guinea-Bissau.

Namun, PAIGC tak mau kalah. Taktik gerilya mereka diarahkan makin opensif. Dengan dukungan persenjataan dari negeri-negeri kiri, seperti Kuba dan Uni Soviet, PAIGC makin keras menghantam tentara Portugis.

Tahun 1969, PAIGC berhasil membebaskan dua-pertiga wilayah Guinea-Bissau. Tak hanya itu, di tengah perjuangan gerilya, partai ini juga berjuang membebaskan rakyatnya dari buta-huruf. Hal tersebut membuat PAIGC terus mendapat simpati dari rakyatnya.

Alhasil, pada tahun 1970-an, Portugis mulai mengumpulkan berbagai kekuatan, dengan dukungan Amerika Serikat, untuk menghabisi PAIGC. Pada bulan November 1970-an, Portugis mengerahkan tentaranya dan pasukan bayaran untuk merebut Conakry, Ibukota Guinea, dan membebaskan orang portugis yang ditangkap oleh PAIGC.

Tak hanya itu, Portugis mulai ‘menanam’ agen di dalam tubuh PAIGC, yang bertugas menciptakan keretakan dan perselisihan di dalam tubuh partai revolusioner itu. Lalu, pada tahun 1972, intelijen Portugis (PIDE dan DGS) mulai berupaya membunuh Cabral dan tokoh-tokoh kunci PAIGC lainnya. Tetapi upaya itu menemui kegagalan.

Pada tanggal 8 Januari 1973, setelah pelaksanaan Pemilu di daerah yang dibebaskan, Cabral menyerukan pembentukan Majelis Rakyat Nasional sebagai jalan menuju Proklamasi Kemerdekaan. Namun, rencana itu benar-benar membuat Portugal kalang-kabut. Untuk mencegah upaya itu, pada tanggal 20 Januari 1973, mereka membunuh Cabral.

Kendati demikian, proklamasi Kemerdekaan Guinea-Bissau tidak bisa dihentikan lagi. Tanggal 24 September 1973, Kemerdekaan Guinea-Bissau diproklamirkan. Luís Cabral, saudara kandung Amilcar Cabral, ditunjuk sebagai Presiden.

Tak lama kemudian, tepatnya 25 April 1974, giliran rezim kolonial Portugal yang kena batunya. Sekelompok tentara yang menyebut dirinya Gerakan Angkatan Bersenjata (MFA), yang sudah muak dengan rezim fasis Salazar-Cateano, melancarkan pemberontakan militer. Rezim Fasis Portugal pun tumbang. Keadaan ini membuka jalan bagi dekolonialisasi semua jajahan portugal.

Faktor Yang Mendukung Kemenangan

Yang menarik, kendati menempuh perjuangan bersenjata, tetapi PAIGC tidak menapikan perjuangan di medan lain, seperti di lapangan ekonomi, politik, kebudayaan, dan pendidikan.

Pertama, di daerah-daerah yang sudah dibebaskan, PAIGC mempraktekkan apa yang disebut demokrasi revolusioner, yakni melalui pembentukan Komite Desa (Comite de Tabanca). Di setiap desa, ada komite yang terdiri dari lima orang. Paling minimal harus ada dua orang perempuan. Komite inilah yang mengatur soal pertanian, kesehatan, pendidikan, keamanan, dan menyediakan logistik bagi pasukan gerilya.

Kedua, pembentukan koperasi pertanian dan lumbung rakyat. Bagi Cabral, ekonomi merupakan dimensi penting dalam perjuangan pembebasan nasional. Dalam konteks ini, PAIGC mendorong pertanian kolektif dan pendirian koperasi-koperasi pertanian.

Ketiga, PAIGC juga mendirikan pusat-pusat pendidikan dan layanan kesehatan di daerah yang dibebaskan. Di bidang pendidikan, target utamanya adalah memberantas buta-huruf. Di bidang kesehatan, PAIGC mendirikan 177 posko sanitarios (pusat kesehatan). Tak hanya itu, PAIGC juga membentuk Brigade Kesehatan, yang mendorong dokter-dokter berkeliling ke desa-desa.

Keempat, PAIGC membentuk semacam “Pengadilan Rakyat” di daerah yang terbebaskan. Pengadilan ini punya tiga hakim yang dipilih langsung oleh rakyat di desa-desa. Para hakim ini sewaktu-waktu dapat diganti apabila dianggap tidak bisa bekerja sesuai keinginan warga desa.

Bagaimana Memaknai Pembebasan Nasional

Amilcar Cabral juga punya kontribusi penting dalam pendiskusian soal perjuangan pembebasan nasional. Di sini, ia mencoba memberikan jalan keluar terhadap kegagalan sejumlah gerakan pembebasan nasional di berbagai negara bekas jajahan, termasuk negara-negara Afrika.

Di negara-negara tersebut, meskipun sudah merdeka secara politik, tetapi gagal mencapai kemajuan di lapangan ekonomi. Penyebabnya, struktur ekonomi kolonial tidak pernah dirombak total. Akibatnya, negara-negara ini tetap bergantung secara ekonomi-politik ke negara-negara bekas penjajahnya.

Menurutnya, perjuangan pembebasan nasional sebagai sebuah proses revolusi tidaklah berujung hanya pada momen ketika bendera nasional dikibarkan dan lagu kebangsaan dinyanyikan.

Cabral menjelaskan, sebagai sebuah revolusi, pembebasan nasional harus bermakna adanya transformasi kehidupan (bangsa/rakyat) ke arah yang lebih baik (emansipasi).

Pada tahap awal, emansipasi ini harus bermakna kemerdekaan nasional, yang menghapuskan segala bentuk dominasi asing. Dalam realitas politiknya, bangsa merdeka harus pandai-pandai memilih teman dan mendefenisikan musuh dalam rangka memastikan proses emansipasi nasional tetap berjalan.

Dalam “The Weapon of Theory” (1966), ia menegaskan, pembebasan nasional harus didasarkan pada hak setiap rakyat untuk bebas menentukan nasibnya sendiri. Perjuangan ini akan mengembalikan identitas, martabat, dan hak menentukan nasib sendiri orang-orang Afrika yang merdeka.

Aspek kedua dari pembebasan nasional ini adalah pembebasan penuh kekuatan produktif nasional dari segala bentuk dominasi asing dan rintangan sosial-ekonomi imperialistik. Pembebasan kekuatan produktif ini bermakna penentuan cara produksi yang tepat sesuai dengan tuntutan pemenuhan kebutuhan rakyat, juga sesuai dengan tuntutan pengembangan kebudayaan rakyat, sehingga rakyat punya kapasitas untuk mengembangkan dirinya.

Untuk hal itu, dia mengingatkan, “perlu selalu diingat bahwa rakyat berjuang bukan hanya karena ide, untuk sesuatu yang ada di kepalanya….tetapi untuk keuntungan material, untuk hidup yang lebih baik dan damai, untuk membuat kehidupan mereka lebih baik dan menjamin masa depan anak-anak mereka.”

Artinya, bagi Cabral, perjuangan pembebasan nasional hanya akan bermakna jika membawa perubahan nyata dalam kondisi kehidupan rakyat. Dengan demikian, kemerdekaan akan kehilangan esensinya jika di alam kemerdekaan itu rakyat tetap tertindas dan terhisap, entah oleh bangsa asing ataupun bangsa sendiri.

Cabral juga tidak menapikan aspek pembebasan budaya, yang bertujuan menghapus budaya kolonialis/imperialis dan budaya lokal yang reaksioner. Ia menyerukan agar rakyat kembali kepada kebudayaan mereka sendiri, yang sesuai dengan lingkungan kehidupannya, dengan melempar jauh-jauh kebudayaan asing.

Namun, Cabral juga meyadari, bahwa perjuangan pembebasan nasional tidak bisa dititipkan pada satu tokoh ataupun pada sebuah organisasi politik. Maklum, Cabral menyadari lemahnya ideologi, program politik, dan cita-cita politik dalam gerakan pembebasan nasional. Terang-terangan ia bilang, “jelaslah bahwa perjuangan rakyat akan efektif hanya jika alasan untuk berjuang itu didasarkan pada aspirasi, impian, dan keinginan untuk keadilan dan kemajuan rakyat sendiri, bukan aspirasi, impian, dan ambisi setengah lusin orang atau sekelompok orang yang bertentangan dengan kepentingan rakyat mereka yang sebenarnya.”

Tetapi, ke arah mana perjuangan pembebasan nasional itu? menuju emansipasi rakyat sepenuhnya, itu masih abstrak. Karena itu, Cabral terang-terangan memproklamirkan, “di sini hanya ada dua jalan kemungkinan bagi bangsa merdeka: kembali ke dominasi imperialisme (neo-kolonialisme, kapitalisme, dan kapitalisme negara) atau mengambil jalan menuju SOSIALISME.”



Read more ...

INILAH SOSOK 9 PRESIDEN PALING SEDRHANA DI DUNIA




Bagi sebagian orang di dunia, termasuk di Indonesia, kehidupan seorang Presiden identik dengan kemewahan. Banyak Presiden di dunia tinggal di rumah mewah, kemana-mana naik limusin, punya banyak pengawal, fasilitas serba mewah, gaji banyak, dan bisnis keluarga yang dijalankan oleh anak dan istri.

Namun, tidak semua Presiden seperti itu. Di belahan dunia lain, terutama di Amerika Latin, muncul pemimpin-pemimpin yang tak beda jauh dengan kehidupan rakyatnya. Bagi mereka, menjadi Presiden adalah melayani rakyat.

Berikut nama-nama Presiden yang cukup sederhana di dunia:

1. Fernando Lugo

Dia mendapat julukan “pastor kaum papa”. Maklum, sebelum menjadi kandidat Presiden, Fernando Lugo adalah pastor yang sangat getol membela kaum tertindas. “Bila ada hal yang paling menyakitkan saya, maka itu adalah ketidakadilan dan terutama sekali ketidakadilan sosial,” kata Lugo.

Begitu dilantik menjadi Presiden tahun 2008, Lugo langsung menyatakan tidak akan menerima gajinya sebagai Presiden sebesar 4000 USD per bulan. “Saya tidak membutuhkan gaji itu, yang sebetulnya hak kaum miskin,” katanya.

Selama menjadi Presiden, Lugo memilih tetap tinggal di rumahnya yang sederhana. Ia juga selalu berpakaian sangat sederhana: kemeja panjang atau lengan pendek.

Rikard Bagun dalam laporannya berkepala “Terperangah atas Asketisme Lugo” menulis, “Setiap tamu, termasuk kami bertiga dari Indonesia (saya, Budiman, dan Martin), ikut menikmati makanan harian Lugo berupa singkong rebus, nasi putih, daun kol cacah (salad), dan ikan. Jenis makanan sehari-hari rakyat biasa di Paraguay. Tidak ada yang istimewa.”

Rikard juga melihat, pada hari pertama di jabatannya, Lugo dan Hugo Chavez menyantap makanan rakyat Amerika Latin, seperti ubi kayu, jagung, dan pisang rebus. Sayang, 22 Juni 2012 lalu, Fernando Lugo dikudeta oleh sayap kanan melalui parlemen.

2. Jose ‘Pepe’ Mujica

Jose Mujica adalah salah satu pemimpin Gerakan Pembebasan Nasional Tupamaro (MLN-T). Ia menghabiskan 14 tahun di penjara karena aktivitas gerilya melawan kediktatoran.

Ia memenangkan pemilu tahun 2009 dan resmi menduduki jabatan Presiden pada Maret 2010. Sejak menjadi Presiden Uruguay, Pepe Mujica memilih tinggal di rumahnya di pinggiran kota Montevideo. Di rumahnya itu tidak ada pelayan. Hampir semua pekerjaan rumahnya, seperti memasak, dikerjakan sendiri.

Selama menjadi Presiden, Pepe Mujica menyumbangkan 90 persen gajinya untuk menambah anggaran sosial negerinya. Pada tahun 2010, kekayaannya pribadinya tak lebih dari 1800 AS dollar atau sekitar Rp 18 Juta. Ia juga hanya menggunakan Volkswagen Beetle keluaran 1987 sebagai kendaraan pribadinya.

Hidup sederhana memang filosofi hidup politisi kiri ini. Ketika ia menjadi anggota parlemen, ia memang sudah sangat sederhana. Sampai-sampai Petugas parkir gedung parlemen sangat kaget ketika melihat Mujica datang hanya mengendari motor vespa.

3. Hugo Chavez

Hugo Chavez lahir dari keluarga kelas pekerja. Ia tumbuh dalam kehidupan yang sangat miskin bersama neneknya. Begitu terpilih sebagai Presiden tahun 1998, Chavez menggunakan kekuasannya untuk memberdayakan kaum miskin.

Dia juga adalah sosok Presiden yang sederhana. Seperti Fernando Lugo dan Jose Mujica, Chavez juga menyumbangkan sebagian besar gajinya untuk anggaran sosial. Chavez juga dikenal Presiden yang sangat merakyat. Ketika melakukan kunjungan, Ia hanya menggunakan jeep atau menumpangi truk.

Ketika hujan lebat mengguyur Venezuela, yang berakibat banjir hebat di mana-mana, Chavez membuka pintu istana Kepresidenan sebagai tempat penampungan. Baginya, Istana Kepresidenan adalah rumah rakyat.

Chavez adalah pembebas bagi rakyat Venezuela. Ia menggunakan kekuasaannya untuk merebut kembali kontrol terhadap sumber daya dan kemudian menggunakannya untuk memberantas kemiskinan, membebaskan rakyat dari buta huruf, menggratiskan pendidikan dan kesehatan, menciptakan toko sembako murah di seantero negeri, dan uan pensiun bagi lansia.

4. Fidel Castro

Fidel Castro adalah salah satu pemimpin Revolusi Kuba tahun 1959. Sejak itu, Kuba bergerak menuju sosialisme. Tak heran, karena langkahnya yang berbeda dengan jalan imperialisme itu, Fidel Castro dan Kuba banyak didiskreditkan.

Yang sering terdengar, Fidel dianggap diktator dan hidup sangat mewah. Majalah Forbes, misalnya, menuding Fidel punya simpanan 900 juta USD di luar negeri. Berbekal tudingan palsu itu, media-media mainstream menempatkan Castro sebagai orang terkaya di dunia.

Pada kenyataannya, Castro hidup sangat sederhana. Ia tak punya limusin seperti Obama. Pada kenyataannya, hanya menerima gaji sebesar 900 peso (Peso Kuba tidak punya nilai di pasar internasional, tetapi nilai domestiknya setara kira-kira 36$ per bulan atau sekitar Rp 350 ribu). Di Indonesia, kita hampir tidak menemukan lagi ada buruh yang dibayar di bawah Rp 350 ribu per bulan. Tetapi Kuba membayar gaji Presidennya hanya Rp 350 ribu.

Fidel sendiri sudah membantah tudingan Forbes. Ia bahkan menantang Forebs, “Jika anda bisa membuktikan saya punya uang 1 dollar di luar negeri, saya akan mundur dari jabatan saya.”

Dalam wawancaranya dengan Ignacio Ramonet, seperti ditulis di buku “Fidel Castro: My Life”, sekalipun gajinya pas-pasan, ia mengaku tidak sekarat dalam kelaparan. Sudah begitu, gaji yang kecil itu harus dia sisipkan untuk menyetor iuran ke partai.

5. Nelson Mandela

Siapa yang tak kenal Nelson Mandela? Dia merupakan pemimpin terkemuka pembebasan Afrika Selatan dari kolonialisme dan apartheid. Namanya begitu termasyhur di seluruh penjuru Afrika dan dunia.

Meski begitu, Mandela tetap merupakan sosok yang sederhana. Begitu menjadi Presiden tahun 1994, Mandela rutin memotong gajinya untuk disumbangkan bagi anggaran sosial. Malahan, kemudian, ia menyerahkan sepertiga gajinya untuk membantu anak-anak.

Rumahnya di Johannesburg maupun di desa asalnya, Qunu, terbilang sederhana dan tak ubahnya dengan rumah masyarakat umum.

Tahun 1994, ketika negerinya didera utang warisan rejim lama, Mandela menyerukan pejabat negerinya mengencangkan ikat pinggang. Namun, sebagai langkah awal, ia memulai dengan memotong gajinya sendiri dan gaji Wakil Presiden.

6. Rafael Correa

Rafael Correa adalah ekonom bergelar PhD jebolan University of Illinois, AS. Namun, sekalipun menimbah ilmu di AS, Correa justru sangat anti-neoliberal.

Pada saat Luis Alfredo Palacio, Correa menjadi salah satu menterinya. Saat itu Correa berani menentang proposal IMF dan Bank Dunia. Sayang, tindakannya tidak direstui Presiden Ekuador saat itu. Correa pun mundur dari jabatannya. Namun, sejak peristiwa itu, nama Correa makin populer dan dikagumi rakyat.

Correa sendiri terbilang pemimpin sederhana. Tanggal 6 April lalu, ketika APBN Ekuador diancam defisit, Correa mengeluarkan dekrit untuk membekukan pembayaran gaji pejabat tinggi selama dua tahun. Itu termasuk gaji Presiden, Wakil Presiden, Menteri, dan pejabat tinggi lainnya.

Tak hanya itu, ia juga memotong gajinya dari sekitar 8000 USD menjadi 4000 USD. Memang, gaji pejabat Ekuador termasuk tertinggi di kawasan Andean. Dengan pemotongan gaji itu, Correa menyelamatkan APBN tanpa memangkas subsidi sosial rakyatnya.

7. Evo Morales

Evo Morales adalah Presiden pribumi pertama dalam sejarah Bolivia. Seperti kebanyakan pribumi Bolivia lainnya, Evo kecil sangat miskin dan menghabiskan masa kecilnya dengan menggembala domba. Karena tekanan kemiskinan itu pula, Evo tidak bisa menuntaskan pendidikannya.

Evo adalah seorang petani. Penderitaan yang dialami oleh petani membuat Evo tertarik bergabung dalam serikat petani koka. Pada tahun 1995, ia turut mendirikan partai gerakan sosial bernama Gerakan untuk Sosialisme (MAS).

Dalam pemilu 2005, Evo memenangkan pemilu Presiden. Ia resmi menempati jabatannya Januari 2006. Begitu ia menempati jabatannya, Evo mengumumkan pemotongan setengah gajinya untuk meningkatkan jumlah guru dan dokter.

“Kita membutuhkan 6000 guru baru dan membutuhkan uang 2.200 USD,” katanya. Ia juga menyerukan agar menterinya mengikuti langkahnya. “Bukan untuk Evo, tetapi untuk rakyat,” tambahnya.

Ketika Peru dilanda gempa bumi, pada tahun 2007, Evo juga mendonasikan separuh gajinya untuk korban gempa. Begitu pula ketika terjadi gempa di Haiti dan Chile, Evo juga memotong separuh gajinya dan gaji Wakil Presiden untuk disumbangkan ke rakyat Chile dan Haiti.

Selama menjadi Presiden, penampilan Evo tidak berubah. Ia lebih sering memakai pakaian sederhana, seperti jaket kulit atau sweater biasa. Ia juga tidak meninggalkan kebiasan kaum pribumi mengunyah daun koka.

8. Ahmadinejad

Ahmadinejad, yang pernah menjadi Walikota Teheran, Ibukota Iran, resmi menjadi Presiden tahun 2005. Saat itu, ia diminta mengumumkan kekayaannya. Ternyata, kekayaannya hanya satu rumah sederhana seluas 175 meter persegi dan mobil Peugeot putih keluaran 1977.

Selain itu, ketika baru menempati jabatannya, ia meminta pembantunya menggulung karpet antik peninggalan Persia di istana negara dan menggantinya dengan karpet biasa. Ia menolak kursi V.I.P di pesawat Kepresidenan.

Ahmadinejad selalu berusaha menggambarkan dirinya tidak berjarak dengan rakyat kebanyakan. Beberapa fotonya beredar di dunia maya memperlihatkan Ia tertidur pulas di atas karpet biasa.

9. Lula Da Silva

Lula Da Silva adalah Presiden Brazil yang berlatar-belakang aktivis buruh. Ia lahir dari keluarga yang sangat miskin. Lantaran itulah ia harus meninggalkan bangku Sekolah Dasar. Sejak usia 12 tahun, Lula kecil hidup di jalanan, jadi tukang semir sepatu dan menjual kacang.

Pada usia 14 tahun, Ia bekerja di pabrik pengolahan tembaga dan menempati posisi operator mesin bubut. Lima tahun kemudian, ketika ia bekerja di perusahaan otomotif, ia kehilangan jarinya karena kecelakaan kerja. Namun, kejadian itulah yang mendorong Lula mengorganisir kawan-kawannya sesama pekerja untuk membangun serikat dan memperjuangkan hak-haknya.

Di bawah kediktatoran, Lula tampil sebagai aktivis kiri penentang kediktatoran. Tahun 1971, Lula terpaksa menyaksikan Istrinya, Maria de Lourde, yang menderita penyakit hepatitis, meninggal karena ketiadaan uang untuk membeli obat. Tahun 1978, Ia menjadi Presiden Serikat Buruh Pabrik Baja. Ia juga terlibat dalam pendirian Partai Buruh (PT).

Tiga kali maju sebagai Calon Presiden, Lula akhirnya terpilih pada tahun 2002. Pertama kalinya dalam sejarah Brazil dipimpin oleh Presiden berhaluan kiri dan dari latar-belakang klas pekerja.

Begitu menjadi Presiden, Lula tidak mengubah kehidupannya. Ia tetap berpenampilan sederhana. William Gonçalves, seorang Professor di Universitas Negara Rio De Jeneiro, mengatakan, “Lula adalah rakyat. Ia mengerti perasaan mereka dan berbicara dengan bahasa mereka.”

Lula terpilih dua kali sebagai Presiden Brazil. Masa pemerintahannya dianggap sangat sukses. Tak heran, tingkat penerimaan rakyat terhadap pemerintahan Lula mencapai 80%.

Raymond Samuel



Read more ...

DOUWES DEKKER DALAM PERGERAKAN NASIONAL INDONESIA




Nama Douwes Dekker mengacu pada nama dua orang. Yang pertama, Eduard Douwes Dekker, sering menggunakan nama pena “Multatuli”, adalah penulis novel terkenal berjudul “Max Havelelaar”. Sedangkan yang kedua adalah Ernest Douwes Dekker, punya nama Indonesia Danudirja Setiabudhi, adalah pelopor pergerakan nasional Indonesia dan pendiri organisasi politik bernama Indische Partij.

Kita akan bercerita tentang Ernest Douwes Dekker yang kedua. Ki Hajar Dewantara, salah seorang rekan seperjuangannya, menyebut Ernest Douwes Dekker sebagai pencipta Partai Kebangsaan Indonesia—sering disebut Indische Partij.

Tujuan Indische Partij adalah kemerdekaan Hindia. Saat itu, nama “Indonesia” belum dikenal. Nama “Indonesia” sendiri baru diciptakan oleh Perhimpunan Indonesia di Deen Haag, Negeri Belanda, pada tahun 1920-1921. Nama Indonesia resmi diadopsi Perhimpunan Indonesia pada tahun 1922.

Indische Partij didirikan oleh Ernest Douwes Dekker bersama dua tokoh pergerakan Indonesia lainnya, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan Tjipto Mangunkusumo. Ketiganya sering dinamai “Tiga Serangkai”.

Dekat dengan rakyat pribumi

Ernest Douwes Dekker dilahirkan di Pasuruan, Jawa Timur, pada 8 Oktober 1879. Ayahnya bernama Auguste Henri Edouard Douwes Dekker, seorang agen perbankan. Sedangkan ibunya, Louisa Margaretha Neumann, seorang indo campuran Jerman-Jawa.

Selepas sekolah di HBS tahun 1897, Ernest harus bekerja sebagai pengawas di sebuah perusahaan perkebunan di kaki gunung Semeru. Ia menyaksikan penderitaan rakyat, khususnya buruh-buruh perkebunan kopi, yang diperlakukan sewenang-wenang oleh pengusaha kopi.

Ernest mundur dari pekerjaan. Konon, kepergiaannya dilepas dengan kesedihan oleh buruh-buruh di tempatnya bekerja. Ia kemudian pindah bekerja di sebuah perusahaan gula di Pasuruan. Di sana, ia juga menyaksikan pencurian air oleh tuan besar pemilik perkebunan. Tindakan itu sangat merugikan rakyat di sekitar perkebunan. Ernest pun meninggalkan pekerjaan.

Ernest begitu terpukul begitu ibunya meninggal tahun 1899. Ia sangat sedih dan frustasi. Di saat itulah ia mendengar berita tentang perang Boer di Afrika Selatan. Orang Boer adalah orang-orang Belanda yang bekerja sebagai petani dan memberontak melawan kesewenang-wenangan Inggris. Ernest pun memilih untuk menjadi pejuang Boer melawan Inggris.

Jurnalis kritis

Pada tahun 1903, ia kembali ke Jawa. Ernest, yang saat itu berusia 24 tahun, memilih bekerja sebagai wartawan. Ernest kini sudah berubah menjadi seorang yang berfikiran radikal dan anti-penjajahan. Ia sempat bekerja di surat kabar De Locomotief; dan kemudian bekerja di Surabajaas Handelsblad.

Tulisan-tulisannya sangat pedas mengiritik penguasa. Itu membuatnya terlempar dari surat kabar ke surat kabar. Sampai akhirnya, ia bekerja di surat kabar bernama Bataviaas Nieusblad. Di surat kabar ini, Ernest menempati posisi yang cukup vital: pejabat redaksi.

Ernest menjadikan surat kabar ini sebagai cikal bakal pembangunan gerakan. Di sana, ia merekrut banyak pemuda-pelajar: Soerjopranoto, Tjokrodirdjo, Tjipto, dan Gunawan Mangoenkoesoemo. Ia juga menjalin hubungan dengan pemuda-pemuda radikal di STOVIA. Rumahnya menjadi pusat pertemuan, diskusi, dan rapat-rapat pergerakan.

Bataviaas Nieusblad tak bisa lagi dijadikan alat pergerakan. Karenanya, Ernest pun keluar dan membuat surat kabar sendiri: mula-mula membuat majalah bulanan Het Tijdshrift, lalu kemudian mendirikan koran De Express. De Express benar-benar dibuatnya bergaris radikal. Orang-orang menyebutnya “Neo-Multatulian”.

Mendirikan Indische Partij

IP adalah partai politik pertama di Hindia yang menyerukan “Hindia untuk orang Hindia”. Artinya, kemerdekaan Hindia dari Belanda.

Bung Hatta, ketika memberi ceramah di Gedung Kebangkitan Nasional, 22 Mei 1974, berusaha mengurai perbedaan IP dan Sarekat Islam (SI) sebagai berikut: “Berlainan dengan Sarekat Islam yang tidak mau bicara politk dan melarang anggota-anggotanya berpolitik, Indische Partij tegas menghendaki kemerdekaan hindia dengan jalan parlementer. Jadi menuntut diadakannya suatu Dewan Perwakilan Rakyat.”

IP resmi berdiri melalui sebuah vergadering di Bandung, 25 Desember 1912. Sedangkan pembentukan IP dan kepengurusanya sudah dilakukan lebih dahulu. Duduk di kepengurusan pusat (Hoofdbestuur): Ernest Douwes Dekker sebagai ketua dan Tjipto Mangkukusumo sebagai wakil.

Tekanan propaganda IP adalah kalangan indo. Pada tahun 1913, dari dari 7000-an anggota IP, hanya 500-an orang yang pribumi. Takashi Shiraishi, dalam buku “Zaman Bergerak”, mengatakan, “sekalipun IP sangat didominasi oleh kaum indo, tetapi pengaruhnya di kalangan pribumi tidaklah kecil.”

Kehadiran IP sangat penting di masa awal pergerakan. Pertama, IP menampilkan politik yang sangat radikal. Slogan “Hindia untuk orang Hindia” sangat maju saat itu. Kedua, IP memperkenalkan vergadering-vergadering. HOS Tjokroaminoto, yang sukses menggelar vergadering di Surabaya pada tahun 1913, mengaku belajar dari pengalaman vergadering IP.

Douwes Dekker mengatakan, berdirinya IP adalah pernyataan perang, yaitu sinar terang yang melawan kegelapan, kebaikan melawan kejahatan, peradaban melawan tirani, budak pembayar pajak kolonial melawan negara pemungut pajak. “Ini pembalikan terhadap politik etis,” terang Takashi Shiraishi.

Pada November 1913, bertepatan dengan peringatan 100 tahun kemerdekaan Belanda atas penjajahan Perancis, ada keinginan pula membuat perayaan serupa di Indonesia. IP menganggap rencana peringatan itu sebagai penghinaan bagi bangsa Indonesia yang masih terjajah.

IP melawan rencana itu. Soewardi Soerjaningrat menulis karangan berjudul “Als ik een Nederlander was…” (“Kalau saya seorang Belanda…”) Soewardi antara lain menulis: “Apabila saya seorang belanda, saya tidak akan mengadakan pesta kemerdekaan dalam suatu negeri sedangkan kita menahan kemerdekaan bangsanya. Sejalan dengan pendapat ini bukan saja tidak adil melainkan juga tidak pantas apabila bumiputra disuruh menyumbangkan uang untuk keperluan dana pesta itu. Sudahlah mereka dihina dengan maksud mengadakan perayaan kemerdekaan Nederland itu, sekarang dompet mereka dikosongkan pula. Itulah suatu penghinaan moril dan pemerasan uang!

Gara-gara tulisan itu, Soewardi dan Tjipto ditangkap. Akhirnya, Douwes Dekker, yang baru pulang dari Belanda, menulis pula karangan berjudul : “Onze helden” (“Pahlawan Kita”). Ia memuji kepahlawanan Soewardi dan Tjipto. Douwes Dekker pun ditangkap.

Tiga serangkai ini kemudian dibuang ke eropa. Pada tahun itu juga IP dibubarkan oleh Gubernur Jenderal Belanda. Sekembalinya ke Jawa, tiga serangkai kembali berusaha terjun ke politik dengan bergabung di Insulinde. Namun, karena organisasi ini dianggap terlalu elitis, maka mereka mendirikan NIP (Nationaal Indische Partij). Organisasi ini pun segera dibubarkan penguasa kolonial.

Pro-Republik sampai akhir

Pada tahun 1940-an, menjelang kedatangan fasisme, terjadi penggeledahan besar-besaran terhadap sejumlah tokoh pergerakan di Indonesia. Douwes Dekker juga ditangkap dan ditahan di Ngawi.

Begitu jepang mendarat di Indonesia, Douwes Dekker diangkut ke Suriname—salah satu jajahan Belanda di Amerika Selatan. Di sanalah ia diasingkan oleh penguasa kolonial. Hampir 5 tahun ia ditahan di sana.

Pada tahun 21 januari 1947, melalui perjuangan yang berat, Douwes Dekker berhasil kembali ke Indonesia. Ia menyelundup dengan nama samara: Radjiman. Ia langsung bertemu dengan Bung Karno. Bung Karnolah yang memberi nama “Danudirja Setiabudhi”. Danudirja berarti banteng yang kuat. Sedangkan Setiabudhi berarti jiwa kuat yang setia.

Di kabinet Sjahrir, Douwes Dekker sempat menjadi salah seorang menteri pendidikan. Ia juga pernah menjadi penasehat Presiden, sekretaris politik Perdana Menteri, anggota Dewan Pertimbangan Agung, dan pengajar di Akademi Ilmu Politik di Jogjakarta. Pada saat agresi militer Belanda, hampir semua pemimpin Republik ditangka, termasuk Douwes Dekker.

Pada tahun 1949, Douwes Dekker kembali dan menempati rumah yang sudah reot di Bandung, Jawa Barat. Pada 28 Agustus 1950, Ernest Douwes Dekker menghembuskan nafas yang terakhir.





Read more ...

KRITIK BUNGKARNO TERHADAP SISTEM PENGAJARAN KOLONIAL




Pada tahun 1921, Bung Karno masuk Sekolah Teknik di Bandung, Jawa Barat. Ia bercita-cita menjadi seorang insinyur. Saat itu, di sekolah Teknik itu hanya ada 11 orang bumiputera. Bung Karno adalah salah-satunya.

Di kampus, Soekarno terbilang mahasiswa kritis. Ia menjadi bagian dari kelompok diskusi—sering disebut Algemeene Studie Club. Ya, kalau sekarang mungkin disebut “aktivis mahasiswa”. Itu pula yang membuat Bung Karno cukup kritis di ruang kuliah.

Sekolah Teknik itu, kata Bung Karno, dibuat untuk mengakomodir kecepatan ekspansi dan eksploitasi kolonial. Penguasa kolonial membutuhkan tenaga insinyur dan pengawas lapangan. Akibatnya, kurikulum pun disusun menurut kebutuhan kolonial.

“Pengetahuan yang kupelajari adalah pengetahuan teknik kapitalis,” demikian kritik Bung Karno.

Bung Karno mencontohkan, dalam mata-kuliah soal irigasi, yang diajarkan bukanlah bagaimana mengairi sawah dengan baik, melainkan sistim pengairan tebu dan tembakau. Maklum, sebagian besar kapital Belanda jatuhnya di sektor perkebunan.

Menurut Bung Karno, irigasi yang dijalankan kolonial hanya untuk kepentingan kapitalisme dan imperialisme. “Irigasi tak memberi makan bagi rakyat banyak, melainkan membikin gendut perut pemilik perkebunan,” kata Bung Karno.

Begitu juga dengan ilmu pembangunan jalan. Jalan-jalan dibuat bukan untuk memudahkan rakyat melakukan perjalanan, melainkan untuk kepentingan kapital: menghubungkan pabrik dengan pelabuhan-pelabuhan.

Begitu pula dengan ilmu pasti. Universitas tidak memberi pelajaran rantai-ukuran. Yang diberikan: pita yang panjangnya 20 meter yang sering dipergunakan oleh pengawas perkebunan. Ketika menggambar rencana kota, maka yang utama adalah tempat kedudukan “kabupaten”, yaitu tempat tinggal Bupati-penguasa kolonial.

Kritik Bung Karno terhadap sistim kolonial hampir sejalan dengan gagasan para tokoh pergerakan yang lain, seperti Tan Malaka, Bung Hatta, dan Ki Hajar Dewantara. Bagi Tan Malaka, pendidikan kapitalis hanya untuk tujuan kapital, yakni mencari keuntungan.

Untuk itu, sebagai antitesa terhadap pendidikan kapitalis, Tan Malaka menganjurkan pendidikan kerakyatan, yaitu pendidikan yang tak hanya memberi skill dan pengetahuan tetapi juga keberpihakan kepada rakyat.

25 Mei 1926, Bung Karno lulus dari Sekolah Teknik. Ia resmi menyandang gelar “Insinyur”, sesuatu yang jarang dimiliki kaum bumiputera. Akan tetapi, Soekarno tidak punya keinginan bekerja di jawatan kolonial. Ia memilih jalan “pergerakan”. Berbagai tawaran pekerjaan ditolaknya mentah-mentah.

“Saya tidak yakin di kemudian hari menjadi pembangun rumah. Tujuan saya ialah untuk menjadi pembangun dari suatu bangsa,” kata Bung Karno menegaskan jalan hidupnya.

Namun, pada suatu hari, Bung Karno mengalami kesulitan ekonomi. Rumah tangganya kering sama sekali. Istrinya, Inggit Ganarsih, hanya bisa menyuguhkan secangkir teh encer tanpa gula kepada tamunya. Bung Karno harus mencari pekerjaan!

Didatanginya sekolah Yayasan Ksatrian. Sekolah ini didirikan oleh tokoh pergerakan radikal, Dr. Deuwes Dekker alias Setiabudi. Di sekolah itu Sokarno diterima mengajar ilmu sejarah. Ia mengajar sekitar 30 murid di kelasnya. Salah satunya adalah anak HOS Tjokroaminoto, yaitu Anwar Tjokroaminoto.

Bung Karno mengajar dengan metodenya sendiri. Ia enggan menggunakan metode mengajar yang resmi. Bagi Soekarno, yang paling penting adalah membangkitkan semangat anak-anak didiknya.

Teknik mengajar ilmu sejarah Bung Karno beda dengan apa yang kita rasakan di era Orde Baru hingga sekarang ini: menghafal nama-nama, tahun dan tempat. Bung Karno menekankan pada pengertian sejarah. Baginya, tidak terlalu penting anak-anak dipusingkan tahun berapa Colombus menemukan benua Amerika atau tahun berapa Napoleon gagal dalam perang di Waterloo.

Bagi Bung Karno, mengajar harus disertai improvisasi. Ini agar murid bisa mengikuti dan memahami apa yang diterangkan. Ketika berbicara soal kejadian, Bung Karno lebih banyak menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Bung Karno mengajarkan sejarah seperti orang bersandiwara. Untuk diketahui, Bung Karno ini seorang ahli Tonil.

Terkadang, kalau yang diajarkan adalah soal tokoh politik, misalnya Sun Yat Sen, maka Bung Karno bergaya tak ubahnya orator: mengacungkan tangan, berteriak, dan memukul-mukul meja.

Sudah menjadi kebiasaan dalam pendidikan kolonial, sekolah dikunjungi oleh penilik-penilik sekolah. Penilik sekolah ini adalah orang-orang Belanda. Pada suatu hari, saat sedang mengajar soal imperialisme, sang penilik sekolah datang dan mengikuti mata-pelajaran Bung Karno.

Bung Karno mengajar seperti biasanya. Ia benar-benar berusaha memahamkan siswa tentang apa imperialisme itu. Ia bahkan mengutuk imperialisme itu berkali-kali. Hingga, pada ujung jam mengajarnya, Bung Karno mengatakan, “Negeri Belada kolonialis terkutuk!”

Gara-gara teknik mengajarnya itu, terlebih isian pengajarannya, karir Bung Karno sebagai seorang guru berakhir.

Read more ...
Designed By LMND BENGKALIS