Breaking News

Selasa, 04 November 2014

TANGGAPAN AKTIVIS MAHASISWA BENGKALIS TENTANG KENAIKAN HARGA BBM




Baru saja rakyat merasakan sebuah kegembiran dan mengelu elukan sosok jokowi dengan sifat merakyatnya dan dengan Trisaktinya
tetapi semua rakyat tersentak dengan sebuah rencana pemerintah untuk menaikan BBM
penulis coba menghubungi Nurul Ulfa seorang Aktivis Pergerakan Perempuan Bengkalis melalui seluler

ulfa menangapi bahwa sesungguhnya sebuah yang tidak adil ketika pemerintah harus menaikan BBM kerna BBM tersebut ialah kebutuhan Seluruh Rakyat dan ketika berbicara kebutuhan Rakyat jelas sekali didalam UUD 1945
dan akan sangat tidak adil lagi ketika pemerintah berasumsi bahwa BBM 70-80% hanya dinikmati oleh golongan Atas dengan kedaraan bermotornya coba bayangkan bagaimana golongan bawah 
sesungguhnya subsidi BBM tidak bisa dilihat hanya dari segi sebagai bahan bakar transportasi. Lebih dari itu, BBM juga menyangkut kegiatan sektor produksi rakyat, seperti: pertanian, nelayan, industri rumah tangga, dan lain-lain. Kalau BBM dinaikkan biaya produksi sektor tersebut akan ikut naik, dan bisa mematikan sektor produksi rakyat 

Kenaikan harga BBM juga berpengaruh ke sektor industri. Ini akan memacu kenaikan biaya produksi. Dan, bagi pengusaha, supaya margin keuntungan tetap terjaga, pilihannya: menaikkan harga barang hasil produksi atau memangkas upah pekerja. Kenaikan harga-harga barang, terutama kebutuhan pokok, menggerus daya beli rakyat. Upah buruh juga ikut tergerus. Seperti kenaikan BBM tahun 2013 lalu, daya beli kaum
buruh tergerus hingga 30%. Kenaikan harga BBM membawa rentetan yang panjang: kenaikan ongkos ransportasi, kenaikan biaya sewa kontrakan, dan kenaikan biaya hidup. Program-program yang diberikan kepada pemerintah untuk mengatasi lonjakan kenaikan harga BBM seperti penambahan alokasi anggaran untuk pertanian, pembangunan, pendidikan, dan kesehatan bukanlah hal yang substansi.

Indonesia kaya energi. Masalahnya sumber-sumber energi kita dikuasai oleh asing: sekitar 85-90% ladang minyak kita dikuasai perusahaan asing, 90% produksi gas kita dikuasai oleh 6 perusahaan asing, dan sekitar 70% produksi batubara kita dikuasai asing

Selain itu kenaikan harga BBM hanyalah kedok pemerintah untuk mendorong liberalisasi di sektor hilir. Untuk diketahui subsidi BBM mengganggu mekanisme pasar penjualan BBM. Sehingga korporasi SPBU asing sulit berkompetisi di dalam negeri. Kalau harga BBM jadi dinaikkan oleh Pemerintah, SPBU asing akan berlomba-lomba masuk ke dalam pasar Indonesia seperti Shell (Belanda), Patronas (Malaysia), dan Total E & P (Perancis)
melihat setuasi saat ini pemerintahan telah kebeliger dan oleh itu tiada lain selain Rapatkan barisan tentu saja kaum perempuan harus aktif mendorong menolak kenaikan BBM dan menuntut Laksanankan Pasal 33 UUD 1945


Penulis : DA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By LMND BENGKALIS